Selamat Datang Di Blog Saya

"Sering kali keberuntungan adalah sekumpulan hal-hal kecil yang terlihat tidak berharga"

Selasa, 12 Juni 2012

Menangis Untuk Ibu

 Senin (31/01) ; 04.00 AM
Terbangun aku dari tidur malam yang tidak begitu nyenyak. Ibu ku batuk-batuk di ruang tamu yang tak jauh dari kamar tidurku. Batuk tidak berdahak yang berulang-ulang dilakukannya. Batuk yang begitu menyesakkan dadanya dan sangat membisingkan telingaku. Sebenarnya tak ingin aku mendengar suara yang menyita otak dan menggelisahkan itu. Kapan suara kasar itu akan berhenti ku dengar? Menjadi tanya sejenak dibenakku. Namun tetap saja tidak bisa aku elakkan suara itu. Belum lagi nafas Ibu yang bersuara seperti ada peluit di tenggorokannya. Ya, Ibu ku mengidap penyakit Asma sejak kurang lebih 6 bulan belakangan ini. Nafas di tenggorokkan yang terdengar jelas bersamaan mengeluarkan oksigen dari hidung. Sulit baginya saat itu untuk menarik ulur-nafasnya yg telah tersengal-sengal. Ntah kenapa setiap mendengar suara itu aku ingin pergi jauh saja. Tak ingin mendengarkan itu semua dari Ibu. Tak sanggup. Namun Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Bagaimanapun dia tetap Ibu yang sangat aku sayang.
            Terduduk Dia di kursi empuk ruang tamu dengan lampu padam. Benar-benar menggangu sekali nafas Ibu yang tersengal-sengal itu. Disaat sulitnya Dia mengatur nafas, aku dengar Dia menyebut, “Ya Allah.” Mungkin itu wujud rasa sakit yang Ia tahankan di dada demi meminta bantuan dari Tuhan.
04.05 AM
            5 menit aku tak tenang, badan ku gelisah, bolak-balik mengatur badan demi mendapatkan PW (posisi wuenak), terkadang ingin menutup telinga dengan bantal, namun tak bisa. Ingin tak ingin aku mendengar keluh hati yang keluar dari tarik-ulur nafasnya. Selama lima menit pula Aku dan Ayahku mengabaikan namun menghiraukan Ibu di puncak sakitnya selama ini.
            Aku keluar dengan ragu dari kamar dengan rambut berantakan. Membuka pintu. Segera ku jumpai sosok Ibu yang terduduk lemas di kursi. Menjatuhkan kepalanya kesandaran kursi, duduk tegak dengan kedua tangan di atas lengan kursi, memejamkan mata layaknya orang tidur yang mengigau dan tentu dengan nafas satu-satu. Sungguh tak sanggup melihatnya. Ini ke-2 kalinya aku melihat tubuhnya begitu lemas dan mengantarkannya ke Rumah Sakit terdekat sejak kurang lebih 6 tahun silam.
            Aku sapa ibu dengan pertanyaan, “Kok ngeri kali, Ma, nafasnya?”. Tarik-ulur nafasnya mewakili jawaban atas apa yang ku tanyakan. Begitu pula Ayahku. “Bawa ke Rumah Sakit aja, yah!” usul yang di-iyakan Ayahku.
            Ibu, Ayah dan Aku bersiap ala kadarnya. Cepat-cepat kami menuju Rumah Sakit di pagi buta dengan menggunakan sepeda motor. Keadaan Ibu lebih lemas dari sebelumnya. Di tambah udara dingin pagi yang membuat Ibu semakin sulit untuk bernafas. Terdengarku Ia mengeluh kedinginan dengan volume suara yang begitu pelan. Ku peluk Ibu dari belakang. Ku usap-usap kedua pahanya. Ku letakkan kepalaku di bahu belakang ibu seperti Ia meletakkan kepalanya di bahu belakang Ayah. Tidak jauh memang jarak RS dari rumahku, paling 500 m. Apalagi dengan menggunakan sepeda motor tapi saat itu seperti gerakan slow-motion bagiku mungkin karena dihantui rasa takut dan khawatir yang dalam.
04.20 AM
            Tiba di UGD, RS PT. Inalum segera ku bopong Ibu ke ruang UGD sambil menuggu perawat datang setelah seorang satpam membukakan pintu yang dikuncinya dari dalam. Bener-bener kasian aku melihat Ibu. Tak tertahankan lagi air mata, namun tak ku biarkan air bening itu menetes begitu saja. Tak mau keliatan cengeng di depan orang tua. Tak sekalipun dimasa dewasaku ini.
Terduduk aku di kursi yang memang telah ada dari zaman tak enak itu. Kembali air itu mengepung bola mataku. Buram ku melihat TV di ruang tunggu. Namun tetap saja tak kubiarkan menghiasi pipi keringku. Sementara Ibu sedang ditangani oleh perawat yang baru saja datang dengan langkah cepatnya.
04.30 AM
Dengan bantuan selang oksigen Ibu bernafas sampai Ia dipindahkan ke IRI (Instalasi Rawat Inap) di kamar kelas 3 No. 8. Selang oksigen yang di setel dengan batas maksimum tak terasa baginya. Padahal betapa jelasnya suara oksigen yang keluar dari 2 lubang kecil yang di masukkan ke lubang hidung tersebut. Tak hanya itu saja, tangannya dicucukkan jarum yang disatukan dengan selang kecil berwarna cream dan direkatkan dengan pelekat berwarna cream bening. Kemudian disambungkan ke botol pastik berisi cairan berwarna putih dengan kandungan vitamin lalu digantungkan ditiang infus.
Sungguh tak tenang. Pikiran terbang ntah kemana-mana. Segera ku tapis bila pikiran yang tak ku inginkan muncul. Berdoa dalam hati kepada Sang Khalik agar Ibu segera sehat. Berharap ini untuk terakhir kalinya. Berharap sehat selalu. Sempat juga ku meminta kepada Tuhan untuk tukar posisi antara aku dan Ibu. Berharap keadaan berpindah kepada ku. Biarlah aku yang merasakan sakit yang diderita Ibu.
08.23 AM
Setelah selesai memberi Ibu sarapan dan obat serta sudah beristirahat beberapa jam, Dokter yang khusus menangani penyakit Asma Ibu pun datang untuk memeriksa kondisinya sejauh ini. Di periksanya detak jantung Ibu dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Ditanyanya sebab kambuhnya. “Semalam Ibu kena hujan dan kecapeaan juga, Dok. Tadi malam nafasnya mulai sesak. Tapi nggak separah subuh tadi.” Aku jawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk Ibu. “Mmmm…. Ibu memang nggak bisa dicuaca dingin dan lembab apalagi kecapean. Memang semalam satu harian cuaca dingin dan hujan. Setelah ini Ibu ronsen ya. Nanti perawat yang akan mengantarkan Ibu. Lekas sembuh ya, Bu. Dijaga ya, Dek, Ibunya.” Ku beri anggukan kepala dan senyum tanda respect ku dengan Dokter itu.
09.00 AM
Perawat Laki-laki datang ke kamar Rawat Ibu untuk membawanya ke ruang ronsen.  Diaturnya posisi tempat tidur berukuran seperti spreangbad 3 kaki agar mudah melewati pintu yang pas-pasan dengan tempat yang menjadi teman setia Ibu selama di Rumah sakit serta mengganti tabung oksigen yang besar sementara dengan tabung oksigen yang kecil. Menjadi barang yang paling dibutuhkan. Sedangkan infus dipisahkan dari botolnya sampai kembali ketempatnya. Saking parahnya Asma yang menyerang perempuan berumur 46 tahun itu tak sanggup untuk turun ke kursi roda. Tempat tidur itulah yang membuatnya nyaman untuk beranjak ke ruang ronsen.
Tiba disana, perawat menyuruhku untuk membebaskan badan bagian atas dari helaian benang baju. Hanya ditutupi dengan selimut rumah sakit. Karna yang dironsen adalah bahu sampai punggung bagian belakang saja dengan menimpa papan berwarna hitam pekat berukuran ‘mungkin’ 50x50 cm. Perawat pun pergi keluar selama aku mengerjakan apa yang diperintahakannya. Siap itu, ku panggil perawat tadi untuk melanjutkan pekerjaannya. Dengan hitungan detik saja ronsen telah selesai. Namun belum bisa kami ketahui hasilnya seperti apa.
03. 25 PM
Alhamdulillah, keadaan Ibu sudah membaik. Bicara sudah jelas dan berinteraksi dengan baik, mengatur dan bernafas dengan baik walaupun masih menggunakan bantuan tabung oksigen.
***
Aku rawat Ibu dengan sepenuh hati selama 3 hari 2 malam. Dari dia makan, minum, minum obat, menuntunnya ke toilet, lepas-pasang selang oksigen dari dan kehidungnya, menggantikan pakaiannya, dll yang tak bsia di kerjakannya sendirian saat itu. Ku temani dia 24 jam di Rumah sakit.
Rabu (02/02) ; 05.00 PM
Ibu sudah sehat seperti biasa. Dan check out dari Rumah sakit PT. Inalum.
-SELESAI-
  
*Aku selalu mendoakn yang terbaik buat Ibu dan keluarga. I Love My Family.

08/02/2011
12.00 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar