Membicarakan Kesawan sangat tak asing lagi ditelinga orang Medan. Kawasan yang memiliki nilai sejarah penting bagi kota Medan. Kawasan Kesawan terletak di jantung kota Medan, jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan tertua di Medan. Tak heran bila wisatawan asing banyak mengunjungi kawasan tersebut karena bangunan tua berarsitektur Eropa kerap memanjakan sejarah masa lalu.
Awalnya saya hanya mengetahui bahwa bangunan tua yang masih nangkring di area Kesawan itu adalah tempat yang bersejarah saja, yang merupakan peninggalan dari Belanda dan dibuat semirip mungkin dengan Negara di Eropa. Namun setelah saya menjumpai salah satu Sejarahwan Medan yaitu Erond L Damanik, saya mendapatkan informasi bahwa etnis yang berkumpul di area tersebut lumayan kompleks.
“Lumayan kompleks etnis di kawasan tersebut, seperti Melayu, Tionghoa, India, Eropa, Jawa dan Batak,” kata Erond.
“Apa keberagaman etnis tersebut tidak menimbulkan konflik, Pak?”, tanya saya penasaran.
“Tidak,” jawabnya tegas, “Dulu, masing-masing etnis memiliki pemukiman tersendiri. Tapi, itu hanya batasan pemukiman saja, tidak ada batasan untuk masing-masing etnis memasuki wilayah di luar etnis mereka,” lanjutnya.
Ternyata setiap etnis pemukimannya tidak menyatu. Dengan kata lain dipisah-pisah, misalnya saja orang Cina tinggal di Kesawan, orang Eropa di Jl. Sudirman, Polonia, orang keleng (India) di Madras dan pribumi di Sambu. Walaupun demikian, masyarakat di era dulu saling menghormati dan menghargai tiap etnisnya.
“Dan sungguh tempat yang strategis untuk menjadi miniature peradaban Eropa,” tambahnya.
Hal yang sering dilupakan ketika kita membicarakan sejarah kota Medan adalah fakta bahwa awalnya kesawan dihuni oleh orang-orang Melayu, kemudian orang-orang Tionghoa dari Malaka datang dan menetap di daerah ini sehingga menjadi sebuah Pecinan.
Saya pun menginjakkan kaki di Kesawan dengan maksud untuk hunting foto bangunan tua yang masih berdiri disana. Disebelah kanan dekat gapura masuk Kesawan Squere terdapat rumah Cina kuno besar yang dikenal sebagai Old China Mansion yang merupakan kediaman Tjong Afie, taipan masa lalu dari Tionghoa. Sedang di depannya, hampir berhadapan, terdapat resto Tip Top. Sebuah resto kuno dengan dinding dilapis kayu yang terkenal sejak kolonial Belanda hingga sekarang. Ketika melewati resto Tip Top, saya melihat para turis yang sedang edai-edai. Sedangkan Gedung London Sumatra terletak di sebelah kanan dekat gapura keluar Kesawan Squere. Kawasan Kesawan memiliki tempat makanan ataupun jajanan yaitu Merdeka Walk yang tiap sore-malam setia menjadi wadah untuk melepas penat masyarakat Medan.
Disela percakapan, Pak Erond juga menceritakan sekilas tentang Istana Maimun yang juga tak luput dari sejarahnya Medan. Istana tersebut bernuansakan Moor, Eropa, dan Melayu dan juga merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang hingga saat ini masih bertahta. Bangunan ini mencerminkan perkembangan Islam di Sumatera yang telah modern yang tingkat arsitekturnya telah tercampur beberapa unsur budaya dunia. Di salah satu sudut istana, terdapat salah satu bagian dari meriam keramat, yakni Meriam Puntung yang dahulu terbagi menjadi dua, satu di Deli Medan, dan satu lagi berada di Tanah Karo. Legenda meriam Puntung ini juga menggambungkan etnis Karo, Melayu dan Aceh. Istana ini masih menampilkan pesona kemegahan masa lalu yang tak lekang oleh masa.
Ketika saya memasuki ruangan Istana Maimun, disebelah kanan pandangan saya disuguhi dengan pelaminan kerajaan adab Melayu. Selurusan dari pintu masuk, mata akan dijajali patung yang sedang memakai pakaian adab Melayu. Namun, sebelum sampai ke sana, terlebih dahulu saya akan disuguhi berbagai benda peninggalan sejarah Melayu. Tapi bagi pengunjung yang ingin mengabadikan pakaian adat Melayu bisa dengan menyewanya dengan harga yang sangat terjangkau. Biasanya saat weekend, banyak pengunjung asing yang berdatangan hanya untuk mengetahui sejarah etnis budaya Melayu dengan dipandu oleh seorang Guide.
Perbincangan saya dengan pak Erond tak hanya sampai disitu, dia sempat melemparkan pertanyaan kepada saya.
“Kamu tahu masjid tertua di Medan?”
“Masjid Raya, “ jawab saya tegas.
Namun, jawaban saya dibantah dengan senyum tipisnya itu, “Pernah dengar Masjid Al-Osmani?”
“ngga, Pak. Emangnya dimana letaknya, Pak?” tanya saya penasaran.
“Masjid Al-Osmani terletak di Pelabuhan Deli, Belawan. Dibangun tahun 1854 sedangkan Masjid Raya yang nama resminya Masjid Raya Al-Ma’shun dibangun tahun 1906. Bila Masjid Raya memadukan gaya campur sari antara Moor, India, Andalusia dan Eropa sehingga terkenal dengan keindahan ornamen luar dan dalamnya, Masjid Al-Osmani berarsitekturkkan pada peradaban Timur Tengah, India, Spanyol dan Cina.” Jelasnya.
Saya lebih memilih dian untuk mendengarkan apa yang disampaikan beliau. Tetapi dibalik penjelasannya saya juga baru mengetahui bahwa masjid Raya Al-Ma’shun urutan ke tiga dari kategori masjid tertua di kota Medan. Masjid Gang Bengkok menempati urutan ke dua. Masjid Gang Bengkok dibangun tahun 1874 yang arsitekturnya memakai etnis Cina. Masjid ini sekilas dilihat seperti vihara.
Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya ketahui tentang Kesawan dan keberagaman etnisnya, namun saya tidak bisa berlama-lama dikediamannya yaitu di kantor Pusat Studi Sejarah dan Ilmu- Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan (UNIMED) karena saya memiliki mata kuliah saat penghunjung pertemuan saya dengannya. (Siti Isnayni Noor)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar