Semuanya hilang begitu saja. Tak ada yang bersisa. Kau pergi tanpa meninggalkan bayangan indah di benakku. Kau tak pamit. Kau pergi begitu saja. Sekarang aku yang menanggung semua beban di hati. Menanggung semua apa yang orang pikirkan tentang kita dulu.
Semua yang ingin aku ucapkan pada mu kini tak akan pernah lagi bisa terucap. Kepada siapa lagi aku akan mengadu akan isi hati dan perasaan ini? Kepada siapa lagi aku akan mepersembahkan semua yang ingin aku berikan dengan hasil tanganku sendiri? tak ada orang yang bisa ku perlakukan se istimewamu. Tak ada!
Sekarang hanya kenangan indah dan pahit yang mengantarkan aku ke setiap keheningan yang ku ciptkan sendiri. sekarang kesendirianku yang mengantarkan aku ke gerbang lamunan indah saat bersamamu. Sekarang langkah kaki bertopang tanpa arah mengantarkan aku ke tempat persinggahan terakhirmu.
Dunia ini ramai tak seperti yang orang lain saksikan. Dunia ini sempit yang tak seperti orang lain rasakan. Dunia ini belenggu. Belenggu disetiap waktu yang ku punya. Belenggu di kala ku ingin merasakan kebhagiaaan yang tak bisa kurasakan nikmat. Belenggu dikala semua orang tertawa akan sesuatu yang dimilikinya. Tapi aku tak terbelenggu di kesendirian dan kesunyian hidup. Adakah jawaban untuk semua ini?? Adakah yang mampu memberikan semua yang telah hilang? Tak apalah walau dimulai dari awal asalkan semua kembali lagi. Tak ada yang bisakan? Ya inilah semua yang akan dirasakan setiap individu ketika orang yang benar-benar disayang dan di cintai pergi untuk selamanya.
Serasa dunia beserta isinya tak bersahabat dan tak mau menjadi teman dikala sedih. Semua terlihat dan terasa semakin menjauh walaupun sudah didekati. Hanya Tuhan dijadikan tempat mengadu dan kadang pun dijadikan kambing hitam akan smuanya. Lihat! Betapa kotornya fikiranku sampai aku menyalahkan takdir Tuhan yang telah memang digariskan seperti ini. Lihat, betapa aku tidak terimanya dengan semua kehidupan yang telah aku terima. Lihat, betapa kasihannya aku! Lihat, tak ada satupun orang yang bisa kupercayai lagi di dunia ini. Lihat! Lihat!
Ini bentuk kesedihan, keperihan, kesepian, kesunyian , ketidak adilan yang aku rasakan dari dunia. Ini membuat aku selalu mengeluh dengan semua yang ada dihadapanku. Membuatku tak menikmati akan semua karunia Tuhan yang aku rasakan cukup. Tak ada rasa bersyukur dibenakku.
Dan sampai pada satu titik terang aku bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa ini bukan aku. Bukan aku yang harus menyalahkan semua apa yang ada. Bukan aku yang harus menginginkan semua inginku tercapai. Bukan! Sesampainya aku sadar aku adalah wanita rapuh yang berusaha tegar untuk menerima semua ini dengan hati lapang dada dan menerima semua keputusan Tuhan yang telah ditakdirkan untukku. Ada hikmah lain dan kebahgian yang lebih menantiku di depan sana. Masih ada yang harus aku kejar dan buktikan kepda dunia bahwa aku memang bisa dan pantas untuk tetap bertahan di dunia yang aku anggap selalu menjadi belengguku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar