Selamat Datang Di Blog Saya

"Sering kali keberuntungan adalah sekumpulan hal-hal kecil yang terlihat tidak berharga"

Jumat, 15 Juni 2012

Impian Bukan Lamunan dan Lamunan Bukanlah Impian

            Impian adalah sesuatu yang harus kita kejar untuk diwujudkan. Impian juga salah satu jalan untuk mendapatkan semangat dari diri sendiri. sedangkan lamunan hanya memikirkan sesuatu hal yang penuh dengan harapan namun tak ada gairah untuk melaksanakannya agar terwujud.
 “Aku ingin berubah jadi orang baik,” contoh kalimat yang sering diucapkan. Kalimat yang ingin mengubah hidupnya menjadi pribadi yang lebih baik terkadang hanya dipikirkan saja lalu dibayangkan dalam benak kemudian diucapkan. Namun tidak ada tindak nyata untuk hal itu. bukankah itu merupakan sesuatu yang sia-sia?
Bagi kita yang tidak paham akan perbedaan impian dan lamunan pastilah sulit membedakannya bahkan lamunan itu dianggap sebagai suatu impian. Dari contoh di atas kita bisa menyadari kekuatan negatif pada diri sendiri. Kekuatan negatif didalam diri akan selalu mengarahkan kita untuk berpikir, bertindak dan hidup dalam nuansa keraguan, keterpurukan, ketakutan, kemiskinan, penderitaan batin dan bahkan kesehatan yang buruk yang sebenarnya ingin ditolak tetapi tetap saja harus diterima.
Ubahlah lamunan menjadi sebuah impian. Harapan kosong yang ditimbulkan oleh lamunan bisa ditindak lanjuti dengan impian yang pasti dapat dicapai dan membuat impian itu menjadi sesuatu yang kongkret. Segeralah bertindak untuk mengubah lamunan menjadi impian-impian yang memberdayakan diri. Jangan biarkan lamunan menguasai diri kita, tetapi sebaliknya dengan dilandasi semangat dan keinginan-keinginan besar untuk menjadikannya sebuah impian  sehingga pada akhirnya mampu menentukan sasaran hidup dan cita-cita kita serta mampu memacu untuk memiliki daya juang yang tangguh, semangat yang luar biasa dan gigih dalam meraih apapun yang lebih berani diimpikan.
Ada kalimat yang pernah kita ucapkan kepada orang lain ataupun sebaliknya, “Yang bisa memerintah diri kita sendiri untuk lebih maju, ya diri kita sendiri.” Semua berawal dari diri kita. Mulailah komando diri sendiri untuk mendapatkan impian yang segaris lebih maju ke masa depan.

Belenggu Duniaku

 Semuanya hilang begitu saja. Tak ada yang bersisa. Kau pergi tanpa meninggalkan bayangan indah di benakku. Kau tak pamit. Kau pergi begitu saja. Sekarang aku yang menanggung semua beban di hati. Menanggung semua apa yang orang pikirkan tentang kita dulu.
Semua yang ingin aku ucapkan pada mu kini tak akan pernah lagi bisa terucap. Kepada siapa lagi aku akan mengadu akan isi hati dan perasaan ini? Kepada siapa lagi aku akan mepersembahkan semua yang ingin aku berikan dengan  hasil tanganku sendiri? tak ada orang yang bisa ku perlakukan se istimewamu. Tak ada!
Sekarang hanya kenangan indah dan pahit yang mengantarkan aku ke setiap keheningan yang ku ciptkan sendiri. sekarang kesendirianku yang mengantarkan aku ke gerbang lamunan indah saat bersamamu. Sekarang langkah kaki bertopang tanpa arah mengantarkan aku ke tempat persinggahan terakhirmu.
Dunia ini ramai tak seperti yang orang lain saksikan. Dunia ini sempit yang tak seperti orang lain rasakan. Dunia ini belenggu. Belenggu disetiap waktu yang ku punya. Belenggu di kala ku ingin merasakan kebhagiaaan yang tak bisa kurasakan nikmat. Belenggu dikala semua orang tertawa akan sesuatu yang dimilikinya. Tapi aku tak terbelenggu di kesendirian dan kesunyian hidup. Adakah jawaban untuk semua ini?? Adakah yang mampu memberikan semua yang telah hilang? Tak apalah walau dimulai dari awal asalkan semua kembali lagi. Tak ada yang bisakan? Ya inilah semua yang akan dirasakan setiap individu ketika orang yang benar-benar disayang dan di cintai pergi untuk selamanya.
Serasa dunia beserta isinya tak bersahabat dan tak mau menjadi teman dikala sedih. Semua terlihat dan terasa semakin menjauh walaupun sudah didekati. Hanya Tuhan dijadikan tempat mengadu dan kadang pun dijadikan kambing hitam akan smuanya. Lihat! Betapa kotornya fikiranku sampai aku menyalahkan takdir Tuhan yang telah memang digariskan seperti ini. Lihat, betapa aku tidak terimanya dengan semua kehidupan yang telah aku terima. Lihat, betapa kasihannya aku! Lihat, tak ada satupun orang yang bisa kupercayai lagi di dunia ini. Lihat! Lihat!
Ini bentuk kesedihan, keperihan, kesepian, kesunyian , ketidak adilan yang aku rasakan dari dunia. Ini membuat aku selalu mengeluh dengan semua yang ada dihadapanku. Membuatku tak menikmati akan semua karunia Tuhan yang aku rasakan cukup. Tak ada rasa bersyukur dibenakku.
Dan sampai pada satu titik terang aku bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa ini bukan aku. Bukan aku yang harus menyalahkan semua apa yang ada. Bukan aku yang harus menginginkan semua inginku tercapai. Bukan! Sesampainya aku sadar aku adalah wanita rapuh yang berusaha tegar untuk menerima semua ini dengan hati lapang dada dan menerima semua keputusan Tuhan yang telah ditakdirkan untukku. Ada hikmah lain dan kebahgian yang lebih menantiku di depan sana. Masih ada yang harus aku kejar dan buktikan kepda dunia bahwa aku memang bisa dan pantas untuk tetap bertahan di dunia yang aku anggap selalu menjadi belengguku. 

Selasa, 12 Juni 2012

Medan Kaya Potensi Budaya

Membicarakan Kesawan sangat tak asing lagi ditelinga orang Medan. Kawasan yang memiliki nilai sejarah penting bagi kota Medan. Kawasan Kesawan terletak di jantung kota Medan, jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan tertua di Medan. Tak heran bila wisatawan asing banyak mengunjungi kawasan tersebut karena bangunan tua berarsitektur Eropa kerap memanjakan sejarah masa lalu.
Awalnya saya hanya mengetahui bahwa bangunan tua yang masih nangkring di area Kesawan itu adalah tempat yang bersejarah saja, yang merupakan peninggalan dari Belanda dan dibuat semirip mungkin dengan Negara di Eropa. Namun setelah saya menjumpai salah satu Sejarahwan Medan yaitu Erond L Damanik, saya mendapatkan informasi bahwa  etnis yang berkumpul di area tersebut lumayan kompleks.
“Lumayan kompleks etnis di kawasan tersebut, seperti Melayu, Tionghoa, India, Eropa, Jawa dan Batak,” kata Erond.
“Apa keberagaman etnis tersebut tidak menimbulkan konflik, Pak?”, tanya saya penasaran.
“Tidak,” jawabnya tegas, “Dulu, masing-masing etnis memiliki pemukiman tersendiri. Tapi, itu hanya batasan pemukiman saja, tidak ada batasan untuk masing-masing etnis memasuki wilayah di luar etnis mereka,” lanjutnya.
 Ternyata setiap etnis pemukimannya tidak menyatu. Dengan kata lain dipisah-pisah, misalnya saja orang Cina tinggal di Kesawan, orang Eropa di Jl. Sudirman, Polonia, orang keleng (India) di Madras dan pribumi di Sambu. Walaupun demikian, masyarakat di era dulu saling menghormati dan menghargai tiap etnisnya.
“Dan sungguh tempat yang strategis untuk menjadi miniature peradaban Eropa,” tambahnya.
                Hal yang sering dilupakan ketika kita membicarakan sejarah kota Medan adalah fakta bahwa awalnya kesawan dihuni oleh orang-orang Melayu, kemudian orang-orang Tionghoa dari Malaka datang dan menetap di daerah ini sehingga menjadi sebuah Pecinan.
Saya pun menginjakkan kaki di Kesawan dengan maksud untuk hunting foto bangunan tua yang masih berdiri disana.  Disebelah kanan dekat gapura masuk Kesawan Squere terdapat rumah Cina kuno besar yang dikenal sebagai Old China Mansion yang merupakan kediaman Tjong Afie, taipan masa lalu dari Tionghoa. Sedang di depannya, hampir berhadapan, terdapat resto Tip Top. Sebuah resto kuno dengan dinding dilapis kayu yang terkenal sejak kolonial Belanda hingga sekarang. Ketika melewati resto Tip Top, saya melihat para turis yang sedang edai-edai. Sedangkan Gedung London Sumatra terletak di sebelah kanan dekat gapura keluar Kesawan Squere. Kawasan Kesawan memiliki tempat makanan ataupun jajanan yaitu Merdeka Walk yang tiap sore-malam setia menjadi wadah untuk melepas penat masyarakat Medan.
Disela percakapan, Pak Erond juga menceritakan sekilas tentang Istana Maimun yang juga tak luput dari sejarahnya Medan. Istana tersebut bernuansakan Moor, Eropa, dan Melayu dan juga merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang hingga saat ini masih bertahta. Bangunan ini mencerminkan perkembangan Islam di Sumatera yang telah modern yang tingkat arsitekturnya telah tercampur beberapa unsur budaya dunia. Di salah satu sudut istana, terdapat salah satu bagian dari meriam keramat, yakni Meriam Puntung yang dahulu terbagi menjadi dua, satu di Deli Medan, dan satu lagi berada di Tanah Karo. Legenda meriam Puntung ini juga menggambungkan etnis Karo, Melayu dan Aceh.  Istana ini masih menampilkan pesona kemegahan masa lalu yang tak lekang oleh masa.
Ketika saya memasuki ruangan Istana Maimun, disebelah kanan pandangan saya disuguhi dengan pelaminan kerajaan adab Melayu. Selurusan dari pintu masuk, mata akan dijajali patung yang sedang memakai pakaian adab Melayu. Namun, sebelum sampai ke sana, terlebih dahulu saya akan disuguhi berbagai benda peninggalan sejarah Melayu. Tapi bagi pengunjung yang ingin mengabadikan pakaian adat Melayu bisa dengan menyewanya dengan harga yang sangat terjangkau. Biasanya saat weekend, banyak pengunjung asing yang berdatangan hanya untuk mengetahui sejarah etnis budaya Melayu dengan dipandu oleh seorang Guide.
Perbincangan saya dengan pak Erond tak hanya sampai disitu, dia sempat melemparkan pertanyaan kepada saya.
“Kamu tahu masjid tertua di Medan?”
“Masjid Raya, “ jawab saya tegas.
Namun, jawaban saya dibantah dengan senyum tipisnya itu, “Pernah dengar Masjid Al-Osmani?”
ngga, Pak. Emangnya dimana letaknya, Pak?” tanya saya penasaran.
“Masjid Al-Osmani terletak di Pelabuhan Deli, Belawan. Dibangun tahun 1854 sedangkan Masjid Raya yang nama resminya Masjid Raya Al-Ma’shun dibangun tahun 1906. Bila Masjid Raya memadukan gaya campur sari antara Moor, India, Andalusia dan Eropa sehingga terkenal dengan keindahan ornamen luar dan dalamnya, Masjid Al-Osmani berarsitekturkkan pada peradaban Timur Tengah, India, Spanyol dan Cina.” Jelasnya.
Saya lebih memilih dian untuk mendengarkan apa yang disampaikan beliau. Tetapi dibalik penjelasannya saya juga baru mengetahui bahwa masjid Raya Al-Ma’shun urutan ke tiga dari kategori masjid tertua di kota Medan. Masjid Gang Bengkok menempati urutan ke dua. Masjid Gang Bengkok dibangun tahun 1874 yang arsitekturnya memakai etnis Cina. Masjid ini sekilas dilihat seperti vihara.
Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya ketahui tentang Kesawan dan keberagaman etnisnya, namun saya tidak bisa berlama-lama dikediamannya yaitu di kantor Pusat Studi Sejarah dan Ilmu- Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan (UNIMED) karena saya memiliki mata kuliah saat penghunjung pertemuan saya dengannya. (Siti Isnayni Noor)

Menangis Untuk Ibu

 Senin (31/01) ; 04.00 AM
Terbangun aku dari tidur malam yang tidak begitu nyenyak. Ibu ku batuk-batuk di ruang tamu yang tak jauh dari kamar tidurku. Batuk tidak berdahak yang berulang-ulang dilakukannya. Batuk yang begitu menyesakkan dadanya dan sangat membisingkan telingaku. Sebenarnya tak ingin aku mendengar suara yang menyita otak dan menggelisahkan itu. Kapan suara kasar itu akan berhenti ku dengar? Menjadi tanya sejenak dibenakku. Namun tetap saja tidak bisa aku elakkan suara itu. Belum lagi nafas Ibu yang bersuara seperti ada peluit di tenggorokannya. Ya, Ibu ku mengidap penyakit Asma sejak kurang lebih 6 bulan belakangan ini. Nafas di tenggorokkan yang terdengar jelas bersamaan mengeluarkan oksigen dari hidung. Sulit baginya saat itu untuk menarik ulur-nafasnya yg telah tersengal-sengal. Ntah kenapa setiap mendengar suara itu aku ingin pergi jauh saja. Tak ingin mendengarkan itu semua dari Ibu. Tak sanggup. Namun Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Bagaimanapun dia tetap Ibu yang sangat aku sayang.
            Terduduk Dia di kursi empuk ruang tamu dengan lampu padam. Benar-benar menggangu sekali nafas Ibu yang tersengal-sengal itu. Disaat sulitnya Dia mengatur nafas, aku dengar Dia menyebut, “Ya Allah.” Mungkin itu wujud rasa sakit yang Ia tahankan di dada demi meminta bantuan dari Tuhan.
04.05 AM
            5 menit aku tak tenang, badan ku gelisah, bolak-balik mengatur badan demi mendapatkan PW (posisi wuenak), terkadang ingin menutup telinga dengan bantal, namun tak bisa. Ingin tak ingin aku mendengar keluh hati yang keluar dari tarik-ulur nafasnya. Selama lima menit pula Aku dan Ayahku mengabaikan namun menghiraukan Ibu di puncak sakitnya selama ini.
            Aku keluar dengan ragu dari kamar dengan rambut berantakan. Membuka pintu. Segera ku jumpai sosok Ibu yang terduduk lemas di kursi. Menjatuhkan kepalanya kesandaran kursi, duduk tegak dengan kedua tangan di atas lengan kursi, memejamkan mata layaknya orang tidur yang mengigau dan tentu dengan nafas satu-satu. Sungguh tak sanggup melihatnya. Ini ke-2 kalinya aku melihat tubuhnya begitu lemas dan mengantarkannya ke Rumah Sakit terdekat sejak kurang lebih 6 tahun silam.
            Aku sapa ibu dengan pertanyaan, “Kok ngeri kali, Ma, nafasnya?”. Tarik-ulur nafasnya mewakili jawaban atas apa yang ku tanyakan. Begitu pula Ayahku. “Bawa ke Rumah Sakit aja, yah!” usul yang di-iyakan Ayahku.
            Ibu, Ayah dan Aku bersiap ala kadarnya. Cepat-cepat kami menuju Rumah Sakit di pagi buta dengan menggunakan sepeda motor. Keadaan Ibu lebih lemas dari sebelumnya. Di tambah udara dingin pagi yang membuat Ibu semakin sulit untuk bernafas. Terdengarku Ia mengeluh kedinginan dengan volume suara yang begitu pelan. Ku peluk Ibu dari belakang. Ku usap-usap kedua pahanya. Ku letakkan kepalaku di bahu belakang ibu seperti Ia meletakkan kepalanya di bahu belakang Ayah. Tidak jauh memang jarak RS dari rumahku, paling 500 m. Apalagi dengan menggunakan sepeda motor tapi saat itu seperti gerakan slow-motion bagiku mungkin karena dihantui rasa takut dan khawatir yang dalam.
04.20 AM
            Tiba di UGD, RS PT. Inalum segera ku bopong Ibu ke ruang UGD sambil menuggu perawat datang setelah seorang satpam membukakan pintu yang dikuncinya dari dalam. Bener-bener kasian aku melihat Ibu. Tak tertahankan lagi air mata, namun tak ku biarkan air bening itu menetes begitu saja. Tak mau keliatan cengeng di depan orang tua. Tak sekalipun dimasa dewasaku ini.
Terduduk aku di kursi yang memang telah ada dari zaman tak enak itu. Kembali air itu mengepung bola mataku. Buram ku melihat TV di ruang tunggu. Namun tetap saja tak kubiarkan menghiasi pipi keringku. Sementara Ibu sedang ditangani oleh perawat yang baru saja datang dengan langkah cepatnya.
04.30 AM
Dengan bantuan selang oksigen Ibu bernafas sampai Ia dipindahkan ke IRI (Instalasi Rawat Inap) di kamar kelas 3 No. 8. Selang oksigen yang di setel dengan batas maksimum tak terasa baginya. Padahal betapa jelasnya suara oksigen yang keluar dari 2 lubang kecil yang di masukkan ke lubang hidung tersebut. Tak hanya itu saja, tangannya dicucukkan jarum yang disatukan dengan selang kecil berwarna cream dan direkatkan dengan pelekat berwarna cream bening. Kemudian disambungkan ke botol pastik berisi cairan berwarna putih dengan kandungan vitamin lalu digantungkan ditiang infus.
Sungguh tak tenang. Pikiran terbang ntah kemana-mana. Segera ku tapis bila pikiran yang tak ku inginkan muncul. Berdoa dalam hati kepada Sang Khalik agar Ibu segera sehat. Berharap ini untuk terakhir kalinya. Berharap sehat selalu. Sempat juga ku meminta kepada Tuhan untuk tukar posisi antara aku dan Ibu. Berharap keadaan berpindah kepada ku. Biarlah aku yang merasakan sakit yang diderita Ibu.
08.23 AM
Setelah selesai memberi Ibu sarapan dan obat serta sudah beristirahat beberapa jam, Dokter yang khusus menangani penyakit Asma Ibu pun datang untuk memeriksa kondisinya sejauh ini. Di periksanya detak jantung Ibu dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Ditanyanya sebab kambuhnya. “Semalam Ibu kena hujan dan kecapeaan juga, Dok. Tadi malam nafasnya mulai sesak. Tapi nggak separah subuh tadi.” Aku jawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk Ibu. “Mmmm…. Ibu memang nggak bisa dicuaca dingin dan lembab apalagi kecapean. Memang semalam satu harian cuaca dingin dan hujan. Setelah ini Ibu ronsen ya. Nanti perawat yang akan mengantarkan Ibu. Lekas sembuh ya, Bu. Dijaga ya, Dek, Ibunya.” Ku beri anggukan kepala dan senyum tanda respect ku dengan Dokter itu.
09.00 AM
Perawat Laki-laki datang ke kamar Rawat Ibu untuk membawanya ke ruang ronsen.  Diaturnya posisi tempat tidur berukuran seperti spreangbad 3 kaki agar mudah melewati pintu yang pas-pasan dengan tempat yang menjadi teman setia Ibu selama di Rumah sakit serta mengganti tabung oksigen yang besar sementara dengan tabung oksigen yang kecil. Menjadi barang yang paling dibutuhkan. Sedangkan infus dipisahkan dari botolnya sampai kembali ketempatnya. Saking parahnya Asma yang menyerang perempuan berumur 46 tahun itu tak sanggup untuk turun ke kursi roda. Tempat tidur itulah yang membuatnya nyaman untuk beranjak ke ruang ronsen.
Tiba disana, perawat menyuruhku untuk membebaskan badan bagian atas dari helaian benang baju. Hanya ditutupi dengan selimut rumah sakit. Karna yang dironsen adalah bahu sampai punggung bagian belakang saja dengan menimpa papan berwarna hitam pekat berukuran ‘mungkin’ 50x50 cm. Perawat pun pergi keluar selama aku mengerjakan apa yang diperintahakannya. Siap itu, ku panggil perawat tadi untuk melanjutkan pekerjaannya. Dengan hitungan detik saja ronsen telah selesai. Namun belum bisa kami ketahui hasilnya seperti apa.
03. 25 PM
Alhamdulillah, keadaan Ibu sudah membaik. Bicara sudah jelas dan berinteraksi dengan baik, mengatur dan bernafas dengan baik walaupun masih menggunakan bantuan tabung oksigen.
***
Aku rawat Ibu dengan sepenuh hati selama 3 hari 2 malam. Dari dia makan, minum, minum obat, menuntunnya ke toilet, lepas-pasang selang oksigen dari dan kehidungnya, menggantikan pakaiannya, dll yang tak bsia di kerjakannya sendirian saat itu. Ku temani dia 24 jam di Rumah sakit.
Rabu (02/02) ; 05.00 PM
Ibu sudah sehat seperti biasa. Dan check out dari Rumah sakit PT. Inalum.
-SELESAI-
  
*Aku selalu mendoakn yang terbaik buat Ibu dan keluarga. I Love My Family.

08/02/2011
12.00 AM